Kata orang nama itu do’a. Dan nama yang diberikan padaku seharusnya juga merupakan suatu do’a. Masalahnya, aku tak tau namaku ini do’a atau bukan.
Hmmmm ada cerita tentang namaku…
Sewaktu aku dilahirkan ke dunia, abahku tak merasa perlu untuk mengurus akte kelahiran. Toh saat zamannya beliau, akte kelahiran bukanlah sesuatu yang berharga. Semuanya biasa2 saja sampai suatu hari...waktu pulang sekolah (aq kelas 5 SD) aku membaca sebuah iklan di pinggir jalan yang bunyinya: “sayangi anak Anda dengan membuatkan akte kelahiran” akhirnya aku memaksa orangtuaku untuk membuktikan rasa sayangnya itu dengan membuat akte kelahiran. Waktu itu abahku (masih) merasa tidak perlu membuatkan akte kelahiran. Kupikir, pasti karena ia juga tidak punya akte kelahiran! hehehe. Tapi karena aku terus menerus memaksanya maka ia akhirnya menyerah. Kemudian amangku diminta untuk mengurus akte kelahiran. Membuat akte kelahiran ternyata bukan perkara gampang apalagi jika usia si anak sudah cukup besar. Amangku bahkan harus ikut semacam sidang. Ada2 aja aturan Negara ini.. sedikit2 birokrasi.. ckckckck
Setelah berbulan-bulan menunggu akhirnya ‘kertas’ itu jadi juga. Sungguh aneh pikirku saat itu.. hanya untuk selembar kertas begitu saja harus melalui proses yang sangat panjang. Tapi ya sudahlah… yang penting aku sekarang ‘diakui’ Negara sebagai anak di keluarga ini. Sah sebagai seorang anak! horeeeee
Sejak kecil mama mengajariku untuk menuliskan namaku dengan ANA MUSTAINAH. Jadilah nama di akte itu ANA MUSTAINAH. Anehnya abahku selalu menyebutkan nama ku dengan huruf ‘ain. Entah apa maksudnya. Tapi karena orang2 disekitarku tidak suka ‘repot’ memanggil nama, maka jadilah namaku tdk pakai ‘ain. Sedangkan Negara Indonesia Tercinta ini akan ‘kerepotan’ jika namamu tidak sesuai dengan akte kelahiran. Terutama kalau masuk sekolah atau menikah. Lagipula abahku PASTI tidak akan mau mengurus kesalahan nama di akte ku (itu artinya bakal berurusan lagi sama sidang!) Jadilah.. sampai sekarang ku relakan tulisan namaku ANA MUSTAINAH.
Namaku ini pemberian dari uwakku, entah kenapa bukan abahku yang ngasih nama. Mungkin karena orang islam lebih baik namanya pake bhs arab dan uwakku itu LEBIH PINTER BAHASA ARABnya. Uwakku kan guru agama!
Menurut mamaku, yang dapat info dr uwakku, ANA MUSTAINAH itu adalah saya orang yang penolong (ehehmm ehemm udah geer aja nih!) kalo aku ditanya2, maka aku dg bangganya menjawab ‘SAYA INI PENOLONG’
Suatu hari, waktu aku belajar ngaji, iseng2 aku tanya sama guru ngaji ‘arti namaku apa ya??’ (pikirku, klo kuliah di kairo pasti bhs arabnya bagus ).
Jawabannya bikin aku shocktherapy deh, si guru ngaji bilang.. artinya: saya minta tolong (WHAT?????!!!) Oh NO!! matilah sudah pasaranku,, APA KATA DUNIA???!!!!
Singkat cerita, aku pulang kerumah,, komplen sama mama abahku yg ‘mengiyakan’ nama itu untukku (g berani komplen sm uwak). Mamaku cuma ketawa trus bilang “mau diganti lagi tuh namanya??”
Aku udah speechless. Bersyukur tinggal di INDONESIA, bukan Negara yang menggunakan bahasa arab sebagai bahasa utama. (kalo iya, malu banget dong akuuuu!!)
Sambil berikrar dalam hati: ntar kalo punya anak, ga bakal tak kasih nama dalam bhs arab! Mendingan namanya ga punya arti sekalian, ketimbang jadi ‘korban penggunaan bahasa arab yang salah’
Oh,, atau aku nikahnya ama yang BENERAN PINTER BAHASA ARAB aja kali ya! ckckckckck